Dasar Teori: Prospect Theory & Mental Accounting
Dua pilar utama yang menjadi fondasi behavioral finance adalah Prospect Theory dan Mental Accounting. Keduanya membantu menjelaskan mengapa keputusan keuangan manusia sering kali tidak mengikuti logika matematis, tetapi justru mengikuti pola pikir psikologis yang sangat konsisten.
1. Prospect Theory: Kerugian Terasa Lebih Berat daripada Keuntungan
Prospect Theory—dikembangkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky—menunjukkan bahwa manusia tidak menilai risiko secara objektif. Ada dua temuan penting yang menjadikan teori ini revolusioner:
-
Loss Aversion: kerugian terasa sekitar dua kali lebih menyakitkan dibandingkan rasa senang ketika mendapatkan keuntungan bernilai sama.
-
Reference Point: individu tidak mengevaluasi hasil secara absolut, tetapi dibandingkan dengan titik acuan tertentu (misalnya harga beli saham atau target profit pribadi).
Karena itulah seseorang bisa cepat mengambil keuntungan kecil untuk “mengamankan profit,” namun justru bersedia menahan kerugian besar dengan harapan situasi akan membaik. Perilaku ini bukan irasional semata; ini adalah pola psikologis yang sudah dibuktikan berulang kali dalam riset empiris modern.
2. Mental Accounting: Membagi Uang ke dalam ‘Kotak-Kotak Psikologis’
Jika Prospect Theory menjelaskan cara seseorang merasakan risiko, Mental Accounting menjelaskan cara seseorang mengorganisasi uang. Richard Thaler menemukan bahwa individu sering memperlakukan uang secara berbeda tergantung sumber, tujuan, atau konteksnya. Contohnya:
-
Bonus dianggap “uang ekstra,” sehingga lebih mudah dibelanjakan.
-
Gaji rutin diperlakukan lebih disiplin karena dianggap “uang wajib.”
-
Keuntungan investasi sering langsung dipakai, sementara kerugian dianggap “belum benar-benar rugi” selama belum direalisasikan.
Masalah muncul ketika pengelompokan mental ini menutupi realitas finansial yang sebenarnya. Secara ekonomi, uang tetap uang—tetapi dalam pikiran manusia, setiap kategori bisa terasa sangat berbeda.
3. Mengapa Kedua Teori Ini Penting?
Ketika Prospect Theory (cara merasakan risiko) bertemu dengan Mental Accounting (cara mengorganisasi uang), gambaran perilaku manusia menjadi lebih jelas. Keputusan keuangan sering kali dipengaruhi oleh:
-
bagaimana informasi diframe,
-
ke mana seseorang meletakkan titik acuannya,
-
dan bagaimana uang dikotak-kotakkan secara psikologis.
Memahami dua teori ini membantu organisasi, investor, maupun profesional keuangan mendesain pengambilan keputusan yang lebih selaras dengan cara manusia bekerja. Bukan hanya untuk menjelaskan perilaku, tetapi juga untuk memperbaikinya.
Bias yang Paling Berpengaruh pada Keputusan Keuangan
Setelah memahami fondasi psikologisnya, langkah berikutnya adalah melihat bias apa saja yang paling sering memengaruhi keputusan keuangan. Di antara banyak bias yang telah diteliti, ada beberapa yang terbukti paling kuat, paling konsisten muncul, dan paling berpengaruh terhadap hasil akhir. Berikut empat yang paling relevan dalam konteks investasi maupun keputusan keuangan sehari-hari:
1. Overconfidence Bias: Terlalu Percaya pada Penilaian Sendiri
Bias ini membuat individu melebih-lebihkan kemampuan dalam memprediksi pasar, menilai risiko, atau memilih aset. Riset menunjukkan bahwa overconfidence sering berujung pada overtrading—terlalu sering melakukan transaksi—yang justru menurunkan kinerja portofolio. Dampaknya bukan hanya pada investor ritel; manajer keuangan sekalipun dapat terdampak ketika terlalu yakin pada model atau intuisi yang belum tentu akurat.
2. Anchoring & Framing: Terjebak pada Titik Acuan Awal
Anchoring terjadi ketika seseorang terlalu terpaku pada informasi awal, seperti harga beli saham, target profit pribadi, atau prediksi pertama yang ia dengar. Sementara framing menjelaskan bagaimana cara informasi disajikan dapat mengubah keputusan. Contohnya, “risiko turun 10%” dapat direspons berbeda dibanding “peluang berhasil 90%,” meski secara matematis setara. Bias ini membuat banyak keputusan tampak logis, padahal dipengaruhi persepsi awal yang tidak relevan.
3. Disposition Effect: Menjual yang Untung, Menahan yang Rugi
Fenomena ini merupakan salah satu temuan paling konsisten dalam behavioral finance. Individu cenderung cepat mengambil keuntungan kecil untuk mengunci profit, tetapi enggan menjual aset yang merugi karena ingin “balik modal.” Perilaku ini selaras dengan Prospect Theory: kerugian terasa lebih menyakitkan sehingga seseorang mencari cara untuk menghindari realisasinya, meskipun keputusan tersebut tidak menguntungkan dalam jangka panjang.
4. Herding Behavior: Mengikuti Kerumunan tanpa Evaluasi Mendalam
Herding muncul ketika keputusan diambil hanya karena banyak orang melakukan hal yang sama. Fenomena ini dapat terlihat dalam siklus hype aset, gelembung harga, hingga panic selling massal. Efeknya bisa signifikan: pasar menjadi lebih volatil dan keputusan sering didorong oleh tekanan sosial, bukan fundamental ekonomi. Herding juga terjadi di level perusahaan, misalnya dalam tren investasi industri tertentu hanya karena kompetitor melakukannya.
Bukti Empiris & Anomali Pasar yang Menonjol
Setelah memahami teori dan bias yang membentuk perilaku keuangan, bagian yang tidak kalah penting adalah melihat apa yang terjadi di lapangan. Behavioral finance bukan sekadar konsep psikologi; ia diperkuat oleh temuan empiris yang konsisten muncul di berbagai pasar dunia, termasuk pasar berkembang. Anomali-anomali ini menunjukkan bahwa perilaku manusia berperan besar dalam membentuk dinamika harga, volume perdagangan, dan volatilitas pasar.
1. Overtrading & Penurunan Kinerja Portofolio
Salah satu temuan paling dikenal berasal dari Barber & Odean: investor yang terlalu percaya diri cenderung melakukan transaksi lebih sering, tetapi kinerjanya justru lebih rendah dibanding mereka yang jarang melakukan trading. Fenomena ini muncul di berbagai negara dan generasi investor. Dengan kata lain, semakin tinggi keyakinan subjektif, semakin besar peluang keputusan justru melenceng dari hasil optimal.
2. Disposition Effect dalam Data Nyata
Riset empiris menemukan pola sangat konsisten: investor menjual saham yang sudah untung lebih cepat, tetapi menahan saham yang merugi terlalu lama. Analisis data transaksi jutaan investor menunjukkan bahwa pola ini bukan anomali kecil—ini adalah perilaku dominan. Implikasinya jelas: keputusan bebas bias seharusnya berfokus pada prospek masa depan, bukan “harga beli” yang sebenarnya tidak relevan secara ekonomi.
3. Herding & Gelembung Harga (Market Bubbles)
Herding bukan hanya fenomena sosial—ini adalah kekuatan yang dapat menggerakkan pasar secara kolektif. Mulai dari dot-com bubble, krisis subprime, hingga kenaikan tajam harga aset tertentu dalam waktu singkat, pola herding terlihat jelas: individu mengikuti keputusan kelompok karena tekanan sosial, rasa takut tertinggal (FOMO), atau sekadar asumsi bahwa kerumunan pasti “tahu sesuatu.” Data juga menunjukkan bahwa herding memperbesar volatilitas dan dapat mempercepat pembentukan gelembung harga.
4. Anomali Momentum & Reversal
Dalam teori pasar efisien, harga seharusnya mencerminkan seluruh informasi yang tersedia. Namun bukti empiris menunjukkan hal sebaliknya. Momentum—kecenderungan aset yang naik untuk terus naik dalam jangka pendek—dan reversal—kecenderungan pembalikan harga dalam jangka panjang—adalah dua anomali paling menonjol dalam literatur keuangan modern. Anomali ini tidak bisa dijelaskan sepenuhnya oleh model rasional, tetapi selaras dengan bias perilaku seperti overreaction dan underreaction terhadap informasi.
5. Reaksi Berlebihan terhadap Berita
Dalam banyak studi, investor sering bereaksi terlalu kuat terhadap informasi yang dramatis, tetapi terlalu lemah terhadap informasi fundamental yang lebih penting. Misalnya, berita negatif yang bersifat emosional dapat memicu penurunan tajam meskipun tidak berdampak jangka panjang, sementara laporan keuangan positif yang membutuhkan analisis mendalam sering direspons lambat. Ketidakseimbangan ini menciptakan peluang mispricing yang dapat bertahan dalam periode tertentu.
Strategi Praktis Mengurangi Bias
Setelah melihat bagaimana bias muncul dan bagaimana bukti empiris membuktikan dampaknya, bagian ini berfokus pada hal yang paling dibutuhkan dalam praktik: bagaimana mengurangi pengaruh bias dalam pengambilan keputusan keuangan. Pendekatannya bukan sekadar “melatih diri untuk lebih rasional,” tetapi merancang sistem, rutinitas, dan struktur keputusan yang membantu menjaga objektivitas saat tekanan muncul.
1. Gunakan Checklist Keputusan untuk Menahan Impuls
Checklist sederhana dapat mengurangi bias secara signifikan karena memaksa proses berpikir lebih sistematis. Contohnya mencakup: apakah keputusan ini berdasarkan data terbaru, apakah ada pengaruh emosi, apakah alternatif sudah dievaluasi, dan apakah asumsi sudah diuji ulang. Pendekatan ini terbukti efektif di berbagai industri berisiko tinggi, termasuk manajemen portofolio.
2. Terapkan Aturan Portofolio: Rebalancing Berkala
Rebalancing adalah cara sistematis untuk melawan bias overconfidence dan disposition effect. Dengan menetapkan aturan tetap—misalnya rebalancing setiap kuartal atau saat alokasi melewati batas tertentu—keputusan tidak lagi didorong sentimen pasar jangka pendek. Pendekatan ini menjaga komposisi portofolio tetap sesuai tujuan tanpa harus menebak arah pasar.
3. Gunakan Choice Architecture yang Meminimalkan Bias
Konsep choice architecture menjelaskan bahwa cara pilihan disusun dapat memengaruhi keputusan. Dalam konteks keuangan, ini bisa berupa penggunaan pilihan default yang lebih aman (misalnya kontribusi otomatis ke dana pensiun), pengelompokan informasi yang lebih jelas, atau limit transaksi untuk menghindari overtrading. Struktur ini membantu menjaga keputusan tetap rasional bahkan ketika kondisi pasar menekan.
4. Lakukan Review Keputusan Secara Berkala dengan Data
Review berkala membantu memisahkan hasil yang baik karena strategi dari hasil baik karena keberuntungan. Proses ini termasuk mengevaluasi apakah tujuan keuangan masih relevan, apakah asumsi awal masih berlaku, dan apakah keputusan sebelumnya terpengaruh bias tertentu. Dengan disiplin evaluasi, individu dan organisasi dapat mengkalibrasi strategi dari waktu ke waktu.
5. Manfaatkan Dukungan Teknologi & Peran Advisor
Perangkat digital, AI, dan advisor profesional berperan penting dalam membantu mengoreksi bias manusia. Algoritma dapat memberikan rekomendasi yang tidak terpengaruh emosi, sementara advisor dapat bertindak sebagai “behavioral coach”—membantu pengambil keputusan tetap tenang, menilai risiko secara realistis, dan tidak terbawa dinamika pasar jangka pendek.
Behavioral finance menawarkan cara pandang yang lebih realistis terhadap bagaimana keputusan keuangan sebenarnya diambil. Teori-teori seperti Prospect Theory, Mental Accounting, serta berbagai bias dan anomali pasar menunjukkan bahwa perilaku manusia memegang peran besar dalam membentuk dinamika keuangan modern. Dengan memahami bagaimana pikiran bekerja—mulai dari kecenderungan takut rugi, mengikuti kerumunan, hingga keyakinan berlebih—organisasi, investor, dan profesional dapat merancang pendekatan yang lebih adaptif dan tahan terhadap distorsi psikologis. Lebih dari itu, strategi praktis seperti penggunaan checklist, rebalancing portofolio, hingga dukungan teknologi dan advisor membantu menjaga keputusan tetap objektif di tengah ketidakpastian pasar. Pemahaman behavioral finance bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga memberikan alat yang nyata untuk meningkatkan kualitas keputusan keuangan jangka panjang.