Literasi Keuangan Anak Muda:Kenapa Skornya Masih Rendah Padahal Akses Keuangan Digital Sudah Makin Mudah

Literasi Keuangan Anak Muda:Kenapa Skornya Masih Rendah Padahal Akses Keuangan Digital Sudah Makin Mudah

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Tahun 2025 yang digarap Otoritas Jasa Keuangan dan Badan Pusat Statistik mencatat sesuatu yang janggal. Delapan dari sepuluh orang Indonesia sudah punya akses ke produk keuangan formal, mulai dari tabungan, dompet digital, sampai layanan pembayaran online. Tapi begitu diukur seberapa paham mereka memakai produk itu dengan benar, hasilnya jomplang jauh.

Kelompok usia 15 sampai 17 tahun cuma mencetak skor literasi keuangan di kisaran 51 persen, jauh di bawah kelompok usia 18 sampai 25 tahun yang sudah tembus 73 persen. Artinya, remaja hari ini justru berada di titik paling rawan. Mereka sudah pegang akses ke QRIS, dompet elektronik, dan fitur paylater sejak duduk di bangku SMA, tapi belum tentu paham konsekuensi dari tiap transaksi yang mereka buat sendiri.

Literasi keuangan anak muda jadi masalah yang lebih mendesak dari sekadar materi tambahan di pelajaran ekonomi sekolah. Ini soal kesiapan menghadapi keputusan finansial yang datang jauh lebih awal dibanding generasi orang tua mereka dulu. Masalahnya, kebanyakan pembahasan soal literasi keuangan berhenti di anjuran menabung dan menyusun anggaran bulanan. Padahal cakupannya jauh lebih luas, dan justru bagian yang sering terlewat itu yang paling menentukan apakah anak muda bisa selamat dari jebakan finansial di dunia digital.

Catatan DataInklusi keuangan nasional sudah di atas 80 persen, tapi literasi keuangan kelompok usia 15-17 tahun baru di kisaran 51 persen. Celah hampir 30 poin ini yang membuat remaja jadi kelompok paling rentan terhadap produk keuangan yang sebenarnya sudah ada di genggaman mereka setiap hari.

Kesenjangan yang Bikin Remaja Paling Rentan di Antara Semua Kelompok Usia

Data ini penting karena membongkar asumsi yang selama ini keliru. Banyak orang mengira remaja masa kini otomatis lebih melek finansial karena mereka besar dengan aplikasi keuangan di genggaman sejak kecil. Kenyataannya, kemudahan akses dan kemampuan memahami adalah dua hal berbeda, dan keduanya tidak selalu berjalan beriringan.

Hasil asesmen literasi keuangan pelajar tingkat internasional menunjukkan pola serupa. Indonesia konsisten berada di kelompok bawah dibanding negara-negara maju dalam kemampuan pelajar usia 15 tahun memahami konsep dasar seperti bunga majemuk, risiko kredit, atau perbedaan antara kebutuhan dan keinginan finansial. Bukan karena pelajar Indonesia kurang cerdas, tapi karena materi semacam ini jarang diajarkan secara eksplisit dan terstruktur di sekolah.

Akibatnya, banyak remaja belajar soal uang dari sumber yang keliru: circle pertemanan, konten media sosial yang menjanjikan cuan cepat, atau justru dari pengalaman pahit setelah lebih dulu terjebak masalah finansial. Usia sekolah menengah dan awal kuliah sebenarnya jendela paling ideal untuk membentuk kebiasaan finansial yang sehat. Keputusan besar seperti kredit pertama, investasi pertama, sampai utang pertama biasanya justru dimulai di rentang usia ini, jauh sebelum seseorang merasa sudah siap secara finansial.

Literasi Keuangan Itu Lebih dari Rajin Menabung

Kalau ditanya apa itu literasi keuangan, jawaban paling umum yang muncul adalah kebiasaan menabung. Ini tidak salah, tapi jauh dari lengkap. Menabung hanya satu keping kecil dari kemampuan yang jauh lebih besar, yaitu kemampuan mengambil keputusan finansial yang tepat di berbagai situasi, bukan cuma soal menyisihkan uang tiap bulan.

Remaja yang rajin menabung tapi tidak paham cara kerja bunga pinjaman, misalnya, tetap bisa terjebak utang konsumtif lewat paylater. Mahasiswa yang disiplin mencatat pengeluaran bulanan tapi tidak tahu cara membaca skema investasi bisa kehilangan tabungan yang susah payah dikumpulkan, hanya karena tergiur skema bodong yang menjanjikan imbal hasil tidak masuk akal.

Titik lemah paling umum justru ada di kemampuan mengevaluasi risiko, bukan di kemampuan menyimpan uang. Seseorang bisa disiplin menabung setiap bulan, tapi kalau tidak punya kerangka berpikir untuk menilai produk keuangan mana yang aman dan mana yang berbahaya, kebiasaan baik itu saja tidak cukup melindungi dari kerugian besar. Literasi keuangan yang matang berarti tahu kapan harus curiga, bukan cuma tahu cara menabung.

Empat Area yang Membentuk Literasi Keuangan Anak Muda yang Utuh

Kerangka yang dipakai lembaga-lembaga pendidikan keuangan internasional membagi literasi keuangan ke dalam empat area yang saling melengkapi. Kalau salah satu area lemah, tiga area lainnya jadi kurang berguna, karena keputusan finansial jarang berdiri sendiri di satu ranah saja.

  • Uang dan transaksi sehari-hari: paham cara kerja uang tunai dan transfer digital, termasuk biaya tersembunyi di balik tiap transaksi seperti biaya admin, bunga keterlambatan, atau ongkos platform yang sering tidak disadari penggunanya.
  • Perencanaan dan pengelolaan keuangan: kemampuan menyusun anggaran, memisahkan uang untuk kebutuhan pokok dan tabungan, serta menyiapkan dana darurat sebelum kebutuhan mendesak benar-benar datang.
  • Risiko dan imbal hasil: memahami bahwa semua produk keuangan, dari deposito sampai aset kripto, punya trade-off antara risiko dan potensi keuntungan, dan tidak ada instrumen yang menjanjikan untung besar tanpa risiko yang sepadan.
  • Lanskap keuangan yang lebih luas: paham hak dan kewajiban sebagai konsumen keuangan, termasuk ke mana harus melapor kalau menemukan produk keuangan yang mencurigakan atau tidak berizin.

Empat area inilah yang jadi alasan kenapa program pendidikan bisnis dan manajemen modern menaruh literasi keuangan sebagai fondasi, bukan sebagai pelengkap kurikulum. Mahasiswa yang paham keempatnya sejak awal kuliah biasanya lebih siap mengambil keputusan finansial besar, entah itu soal cicilan pendidikan, kartu kredit pertama, atau investasi awal karier.

Risiko Digital yang Mengincar Anak Muda Lebih Cepat dari yang Disadari

Kemudahan akses keuangan digital punya sisi lain yang jarang dibahas tuntas. Makin cepat anak muda bisa bertransaksi, makin cepat pula mereka bisa terjerumus masalah kalau literasi keuangannya tidak mengimbangi kecepatan itu. Beberapa pola yang paling sering muncul di kalangan pelajar dan mahasiswa Indonesia:

  • Paylater dan cicilan tanpa kartu kredit yang terasa ringan per transaksi, tapi menumpuk jadi beban bulanan yang sulit dilacak karena tersebar di banyak aplikasi berbeda dengan tanggal jatuh tempo yang tidak sama.
  • Pinjaman online ilegal yang menyasar mahasiswa lewat pesan singkat atau iklan media sosial, dengan bunga harian jauh di atas batas wajar dan praktik penagihan yang cenderung mengintimidasi.
  • Investasi bodong berkedok trading otomatis atau robot forex yang menjanjikan imbal hasil tetap tiap bulan, sebuah tanda yang seharusnya langsung memicu kecurigaan karena tidak ada instrumen legal yang bisa menjamin hasil sebesar itu.
  • Kebocoran data lewat phishing, di mana korban diminta memberikan kode OTP atau PIN lewat tautan yang mengatasnamakan bank atau dompet digital resmi.

Yang membuat pola-pola ini berbahaya bukan cuma soal kerugian uang, tapi soal jejak yang ditinggalkan. Riwayat kredit macet di usia muda bisa memengaruhi akses pinjaman resmi bertahun-tahun kemudian, jauh sebelum seseorang sadar bahwa data keuangannya sudah tercatat di sistem informasi debitur.

Langkah Konkret Membangun Literasi Keuangan Sejak di Bangku Sekolah dan Kuliah

Membangun literasi keuangan tidak harus menunggu sampai punya penghasilan tetap. Periode sekolah menengah dan kuliah justru waktu paling murah untuk belajar, karena kesalahan finansial di fase ini biasanya masih dalam skala yang bisa diperbaiki tanpa risiko besar.

Beberapa langkah yang bisa mulai diterapkan tanpa perlu modal besar:

  • Pisahkan uang berdasarkan fungsi, bukan cuma jumlah. Satu rekening untuk kebutuhan harian, satu untuk tabungan jangka pendek, dan kalau memungkinkan, satu lagi untuk dana darurat yang tidak disentuh kecuali kondisi benar-benar mendesak.
  • Catat setiap pengeluaran selama satu bulan penuh sebelum menyusun anggaran. Kebanyakan orang salah menyusun anggaran karena menebak pola belanja sendiri, padahal kebiasaan riil sering berbeda jauh dari perkiraan di kepala.
  • Pelajari cara membaca skema investasi sebelum ikut serta, bukan sesudahnya. Cek legalitas produk lewat lembaga pengawas resmi, lalu tanyakan siapa yang mengelola dana dan bagaimana mekanisme keuntungannya benar-benar dihasilkan.
  • Batasi jumlah aplikasi paylater dan cicilan yang aktif dalam satu waktu. Satu aplikasi jauh lebih mudah dilacak dibanding tiga aplikasi berbeda dengan tanggal jatuh tempo yang tidak sinkron satu sama lain.

Kebiasaan ini terdengar sederhana, tapi efeknya kumulatif. Anak muda yang membangun kebiasaan ini di usia 18 atau 19 tahun biasanya sudah punya fondasi finansial yang jauh lebih matang begitu masuk dunia kerja, dibanding mereka yang baru mulai belajar setelah menghadapi masalah finansial pertama kali.

Peran Sekolah, Kampus, dan Keluarga yang Sering Terlewat

Kebiasaan finansial individu memang penting, tapi tidak bisa dibangun sendirian tanpa lingkungan yang mendukung. Sekolah dan kampus punya posisi strategis untuk mempercepat literasi keuangan anak muda, asal materinya tidak berhenti di teori di atas kertas.

Beberapa sekolah menengah di Indonesia sudah mulai memasukkan simulasi keuangan sederhana ke dalam pelajaran ekonomi, misalnya latihan menyusun anggaran rumah tangga fiktif atau simulasi kredit dengan angka bunga yang realistis. Pendekatan seperti ini jauh lebih efektif dibanding sekadar menghafal definisi bunga majemuk, karena pelajar langsung merasakan konsekuensi dari tiap pilihan yang mereka ambil dalam simulasi.

Kampus punya peluang lebih besar lagi karena mahasiswa sudah mulai memegang keputusan finansial nyata, bukan cuma simulasi. Mata kuliah dasar manajemen keuangan, klub investasi mahasiswa, atau sesi konsultasi keuangan pribadi dengan dosen pembimbing bisa jadi jembatan antara teori di kelas dengan keputusan sehari-hari, seperti memilih tempat kos, mengatur uang bulanan dari orang tua, atau mulai mencicil laptop untuk kebutuhan kuliah.

Peran keluarga juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Anak muda yang tumbuh melihat orang tua terbuka soal cara mengatur uang rumah tangga, termasuk kapan harus menahan keinginan belanja, cenderung punya kebiasaan finansial yang lebih sehat dibanding yang tumbuh tanpa pernah membicarakan uang sama sekali di rumah. Diskusi soal uang yang selama ini dianggap tabu justru salah satu cara paling murah untuk menutup kesenjangan literasi keuangan yang terlihat di data nasional.

Kemampuan mengelola uang sendiri ini juga jadi bekal yang relevan kalau nanti melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih menantang di bidang bisnis.

Sarjana Manajemen Reguler – PPM School of Management
Kalau kamu tertarik memperdalam cara kerja keuangan, pengambilan keputusan bisnis, dan strategi mengelola sumber daya secara lebih terstruktur, Program Sarjana Manajemen Reguler di PPM School of Management bisa jadi pilihan yang relevan. Kurikulumnya menggabungkan pemahaman manajemen keuangan dengan praktik langsung lewat studi kasus dan simulasi bisnis nyata, bukan cuma teori di ruang kelas. Info lengkap Program Sarjana Manajemen Reguler

Literasi keuangan anak muda bukan soal siapa yang paling rajin menabung atau paling irit dalam belanja harian. Kemampuan yang sebenarnya diuji adalah seberapa cepat seseorang bisa mengenali produk keuangan yang berbahaya sebelum ikut terjun ke dalamnya, dan seberapa disiplin menjalankan rencana keuangan meski godaan konsumsi datang tiap hari lewat notifikasi di layar ponsel.

Kesenjangan yang tercatat di data nasional hari ini bukan takdir permanen. Setiap kebiasaan finansial yang mulai dibangun sejak sekolah menengah atau awal kuliah punya efek jangka panjang yang jauh lebih besar dari nominal uang yang terlibat di dalamnya.

Tinggalkan Komentar

* Wajib diisi

Berita Terkait

Cara Membaca Laporan Keuangan Sederhana untuk Pemula yang Baru Kenal Bisnis

Cara Membaca Laporan Keuangan Sederhana untuk Pemula yang Baru Kenal Bisnis

Bayangkan kamu baru saja membuka usaha kecil-kecilan: jualan minuman boba, jastip barang impor, atau jual preset foto di media sosial. Bulan pertama berjalan, ada uang...
Budgeting Perusahaan: Master Budget, Flexible Budget, dan Zero-Based Budget

Budgeting Perusahaan: Master Budget, Flexible Budget, dan Zero-Based Budget

Setiap awal tahun fiskal, tim keuangan perusahaan menghadapi pertanyaan yang sama: bagaimana mengalokasikan sumber daya dengan cara yang paling masuk akal? Di atas kertas, anggaran...
Good Corporate Governance (GCG): Prinsip dan Implementasinya di Perusahaan

Good Corporate Governance (GCG): Prinsip dan Implementasinya di Perusahaan

Banyak perusahaan di Indonesia sudah punya dokumen GCG yang tebal kebijakan anti-korupsi, kode etik, panduan dewan komisaris. Tapi ketika kasus tata kelola buruk mencuat, jarang...